Blogumulus by Roy Tanck and Amanda FazaniDistributed by CahayaBiru.com

Gempa yang Mengintai Jakarta

Selasa, 23 November 2010

Masih lekat dalam ingatan Safarudin, saat Jakarta diguncang gempa tahun lalu. Rabu, 2 September 2009, pukul 14.55 wib, tukang ojek 27 tahun yang biasa mangkal di dekat Wisma Nusantara itu terhenyak, ketika bumi yang dipijaknya bergoyang keras.

“Kreeek…kreeek,” bunyi itu terdengar dari atas, begitu keras di tengah deru kendaraan yang lalu-lalang di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, yang mulai memadat. Safar menengadah ke langit, gedung-gedung jangkung di sekelilingnya terlihat berayun-ayun seolah-olah hendak rubuh menimpanya.

Belum selesai ia mencerna apa yang tengah terjadi, sekonyong-konyong orang-orang dari dalam gedung Wisma Nusantara terbirit-birit berhamburan keluar gedung. “Gempa… gempa..” Tanpa pikir panjang lagi, Safar melompat ke motornya. Ia pacu gas sekencang-kencangnya menyusuri Jl Sutan Syahrir, menjauh dari rimba pencakar langit di pusat kota itu.

Tak jauh dari situ, Sianto Wongjoyo, salah seorang Manajer di Dell Indonesia masih ‘terperangkap’ di kantornya yang berada lantai atas Menara BCA Grand Indonesia Jakarta. Kantor Dell yang baru setahun pindah ke gedung itu, memang terletak lumayan tinggi, yakni di Lantai 48 dari 57 lantai yang ada.

Saat kantornya mulai bergoyang, Sianto tengah rapat. Biasanya ia tak terlalu sensitif terhadap gempa. Namun kali itu guncangan gempa cukup besar untuk menyadarkannya. Lantai bergoyang, kaca-kaca kantor bergetar, dinding-dinding berderak. “Kali ini harus saya akui, benar-benar hebat guncangannya,” Sianto menggambarkan.

Dengan sigap, petugas keamanan memandu para karyawan berkumpul di lorong lift. Dalam hati, Sianto tak lepas berdoa. Menunggu cemas, hingga akhirnya gempa berhenti. Sesaat kemudian, semua dievakuasi keluar gedung, menyusuri anak tangga satu persatu. Jarak 48 lantai memang cukup membuat lutut sedikit linu. “Lumayan capek sih.” Di bawah, ribuan pengunjung dan karyawan yang berkantor di Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Wisma Nusantara, Hotel Nikko, sudah menyemut.

Jangan lupa, Jakarta juga masih punya sekitar 1400 gedung tinggi lainnya. Praktis, aktivitas perkantoran di banyak tempat di Jakarta lumpuh sesaat. Padahal, episentrum gempa saat itu berada di perairan selatan Jawa antara Sukabumi dan Bandung, atau tepatnya di koordinat 7,809 derajat Lintang Selatan dan 107,259 derajat Bujur Timur.

Di Jawa Barat Gempa berkekuatan 7,3 SR itu merenggut setidaknya 79 nyawa, 21 korban hilang, 63.717 rumah rusak berat, dengan perkiraan kerugian lebih dari Rp 300 miliar. Sementara di Jakarta, tak ada korban jiwa dan kerusakan yang berarti. Hanya saja, beberapa gedung mengalami keretakan di sana sini. Setidaknya peristiwa itu mengingatkan semua bahwa Jakarta bukan tempat aman dari ancaman gempa.

Menurut Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Profesor Riset Hery Harjono, secara umum wilayah Jakarta memiliki formasi geologi berusia muda. Lapisan paling atas umumnya berupa tanah lunak yang terdiri dari lempung dan lempung pasiran yang berasal dari endapan pantai dan endapan akibat banjir yang berasal dari periode holosen akhir (berusia sekitar 12 ribu tahun).

Kemudian, di bawahnya terdapat endapan aluvial volkanik yang berasal dari pleistosen akhir (berusia lebih dari 12 ribu tahun). Di bawahnya terdapat endapan marine dan non-marine berumur Pleistosen Awal (sekitar 2.588 juta tahun). Di bagian paling bawah terdapat batuan berumur tersier (1,8 juta - 6,5 juta tahun).

Ir Engkon K Kertapati, peneliti pada Pusat Survei Geologi – Badan Geologi, mengatakan bahwa Jakarta berada di atas tanah yang sangat lemah dan rentan terhadap guncangan gempa. Secara geologi, Jakarta terbagi dua wilayah; Jakarta bagian utara di mana permukaan tanahnya merupakan tanah lunak berusia holosen, dan Jakarta bagian selatan yang lapisan tanahnya relatif lebih padat dan berusia lebih tua (pleistosen).

Bila gempa kuat terjadi, wilayah Jakarta utara paling rawan mengalami proses likuifaksi alias amblasnya permukaan tanah karena perubahan sifat tanah dari padat menjadi air karena gempa. Selain itu, sifat tanah di wilayah utara itu juga akan merambatkan getaran gempa sehingga mengalami amplifikasi atau perbesaran guncangan terhadap gedung-gedung di atasnya.

Menurut Engkon, ini yang membuat Jakarta juga turut merasakan guncangan gempa Tasikmalaya yang pusatnya berjarak hampir dua ratus km dari Jakarta. Saat itu, wilayah Utara Jakarta mengalami amplifikasi gempa hingga 2 kali, sementara wilayah selatan Jakarta mengalami amplifikasi gempa sebesar 1,5 kali.

Oleh karenanya, ahli Gempa LIPI Dr Danny Hilman Natawidjaya mengatakan bila gempa Tasik bermagnitudo lebih besar, misalnya lebih dari 8SR, maka gempa itu bisa memporakporandakan Jakarta. “Ini bisa mematikan, seperti kejadian gempa di Meksiko tahun 1985,” kata Danny. Saat itu, ia menjelaskan, sumber gempa berjarak lebih dari 300 km. Namun, dengan kekuatan gempa sebesar 8,1 SR, gempa itu meratakan kota Mexico City.

Badan survei geologi AS, USGS, menyebutkan, setidaknya 9.500 orang tewas, 30 ribu orang terluka, lebih dari 100 ribu orang menggelandang karena rumah mereka hancur, 412 bangunan tumbang dan 3.124 bangunan lainnya rusak di Mexico City, dengan jumlah kerugian mencapai US$ 3 – 4 miliar. 60 persen dari bangunan-bangunan di daerah lain seperti Ciudad Guzman, Jalisco juga musnah.

Dari catatan Prof Masyhur Irsyam, pakar teknik sipil ITB yang juga kepala tim revisi Peta Gempa Indonesia 2010, pusat gempa Meksiko terjadi di bawah garis pantai Pasifik Meksiko. Episentrumnya berjarak 380 km dari Mexico City.

Lalu kenapa jarak pusat gempa yang begitu jauh tetap bisa mengoyak bangunan-bangunan di Mexico City? Ternyata kota itu berdiri di atas endapan lempung vulkanik yang berusia kurang dari 2.500 tahun. Ini menyebabkan getaran gempa di permukaan tanah bisa mengalami amplifikasi antara 4-5 kali, dan amplifikasi gempa pada bangunan bisa mencapai 21 kali lipat dari getaran di batuan dasar.

Di Jakarta sendiri, gedung-gedung yang dibangun, musti memenuhi standar tahan gempa hingga 8 Skala Richter. Menurut Hermawan Sarwono, Direktur Utama perusahaan kontraktor umum PT Insani Daya Kreasi, gedung-gedung di Jakarta yang dibangun pasca 1989 sudah harus memenuhi persyaratan struktur gedung dan kinerja struktur gedung sesuai dengan Standar Nasional Indonesia 1989.

“Bahkan, standarisasi pembangunan gedung pada 2002, ditingkatkan lagi melalui SNI 03-1726-2002 yang jauh lebih ketat dari standar SNI 1989,” kata Hermawan lagi. Namun, kata Masyhur, ada beberapa tahapan yang perlu dilewati dalam sebuah perencanaan bangunan di Jakarta agar tahan gempa.

Pertama, harus diketahui goyangan atau percepatan di batuan dasar. Angka ini bisa diperoleh dari Peta Gempa Indonesia 2010, di mana percepatan di batuan dasar (Peak Base Acceleration/ PBA) Jakarta adalah 0.19 g (g = gravitasi bumi = 981 cm per detik kuadrat) untuk 10 persen kemungkinan terjadinya dalam 50 tahun dan untuk perioda ulang gempabumi 475 tahunan.

Setelah itu, perlu diketahui pula percepatan di permukaan tanah dengan menghitung efek kondisi tanah setempat, misalnya apakah tanah lunak atau tanah keras. Untuk Jakarta, goyangan di batuan dasarnya bisa saja sama, namun goyangan di permukaan tanah Jakarta Utara dan Jakarta Selatan berbeda, karena perbedaan tanahnya.

Yang terakhir, perlu diperhitungkan goyangan di bangunannya sendiri, yang didasarkan pada perilaku bangunan tersebut. "Dengan mengetahui goyangan pada bangunan, maka dapat dihitung besarnya gaya gempa pada bangunan,” kata Masyhur.

Padahal, hingga kini Jakarta masih belum memiliki peta mikrozonasi gempa, yang bisa secara lengkap menyediakan informasi peta kelabilan tanah, termasuk angka percepatan/ goyangan di permukaan tanah di masing-masing wilayah Jakarta. “Sayangnya di Jakarta kita tidak punya,” kata Masyhur.

Padahal, Jakarta diintai oleh beberapa sesar aktif yang siap ‘menyuplai’ getaran gempa yang bisa sampai ke wilayah Jakarta. Di antaranya adalah Sesar Cimandiri dengan magnitudo gempa 7,2 SR dan kecepatan pergerakan tanah 4 mm per tahun, sesar Lembang dengan magnitudo gempa 6,5 SR dan kecepatan pergerakan tanah 1,5 mm per tahun, dan Sesar Sunda dengan magnitudo gempa 7,2 SR dan kecepatan pergerakan tanah 5 mm per tahun.

Belum lagi rumor adanya sesar purba bernama Sesar Ciputat yang konon terbujur dari Ciputat hingga ke daerah Kota. Danny Hilman mencurigai keberadaan sesar ini dari keberadaan sumber mata air panas di sekitar Gedung Arsip Nasional. Meski patahan aktif Jakarta belum terdeteksi, kata Danny, sejarah mencatat gempa besar pernah meluluhlantakkan Jakarta yaitu gempa yang terjadi pada 1699 dan 1852.

Namun, tak semua setuju dengan indikasi keberadaan sesar di Jakarta. “Secara pribadi saya katakan Sesar Ciputat tidak ada,” kata Engkon. Sebab, Jakarta tak memiliki sumber gempa dangkal yang merupakan indikasi dari kegiatan sesar. Namun, Engkon sepakat dengan Danny mengenai kejadian gempa 1699 yang sempat mengguncang Jakarta.

Gempa tahun 1699, kata Engkon berpusat di selatan Gunung Gede, yang menyebabkan terjadinya kerusakan bangunan dan kerusakan parah di sekitar Hanjawar, Puncak. Sir Thomas Stamford Raffles juga mencatat dalam bukunya History of Java, "Gempa 1699 memuntahkan lumpur dari perut bumi. Lumpur itu menutup aliran sungai, menyebabkan kondisi lingkungan tak sehat, kian parah.”

Menurut buku Encyclopedy of World Geography, gempa ini juga menyebabkan Sungai Ciliwung tertutup oleh longsor lumpur, dan pohon-pohon yang bertumbangan, sehingga terjadi banjir di banyak tempat. Tak sampai seabad kemudian, gempa kembali melanda Jakarta pada 1780.

Sebuah Buku berjudul Transits of Venus: New Views of the Solar System and Galaxy mencatat bahwa Observatorium Mohr yang terletak di Batavia, adalah observatorium yang sukses melaporkan beberapa kejadian Transit of Venus (kondisi saat Matahari Venus dan bumi dalam satu garis). Namun, observatorium tersebut hancur akibat gempa tahun 1780.

Pada 27 Agustus 1883, Jakarta kembali diguncang gempa besar akibat letusan Gunung Krakatau yang memicu tsunami 35 meter dan menewaskan 36 ribu jiwa di Jawa bagian barat, dan sebelah selatan Sumatera. Dari catatan-catatan sejarah tadi, Jakarta memang pernah beberapa kali mengalami gempa hebat.

Yang jelas, kata Engkon, ancaman bagi penduduk Jakarta adalah gempa-gempa dangkal yang bersumber dari Jawa Selatan yakni dari arah zona Subduksi (Megathrust) seperti gempa Tasik. Kerentanan Jakarta akan semakin parah bila daerah-daerah tesebut padat penduduk dan bangunan-bangunannya tidak atau kurang memperhatikan aspek bangunan tahan gempa.

Oleh karenanya, Engkon menyarankan agar Jakarta bersiap sebelum bencana tiba, khususnya Jakarta Utara. Pasalnya, di wilayah ini berbagai infrastruktur penting berdiri, dari mulai pelabuhan, kegiatan ekspor impor, transportasi, daerah wisata, sentra-sentra perdagangan juga peninggalan sejarah. ”Sebab, bagaimanapun juga, gempa bumi tidak akan membunuh manusia. Tapi, bangunan roboh lah yang bisa membunuh manusia,” kata Engkon.

Peristiwa 10 November 1945

Selasa, 09 November 2010



Peristiwa 10 November merupakan peristiwa sejarah perang antara Indo
nesia dan Belanda. Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian, tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak itu, Indonesia diduduki oleh Jepang.

Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa
itu terjadi pa
da Agustus 1945. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian
memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.


Sebelum dilucuti oleh sekutu, rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di
banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para taw
anan yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, selain itu, tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya.NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pun membonceng. Itulah yang meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di mana-mana.



Di Surabaya, dikibarkannya bendera Belanda, Merah-Putih-Biru, di Hotel Yamato, telah
melahirkan Insiden Tunjungan, yang menyulut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan badan-badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya,
memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober.

Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya
(Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di ata
s. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk.

Selain itu, banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda, untuk melucuti pasukan Jepang, dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia).

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang.

Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.

Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.

Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama’ serta kiyai-kiyai pondok jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kiyai-kiyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kiyai)juga ada pelopor muda seperti bung tomo dan lainnya. sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoor
dinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris.

Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.
Sumber: http://id.wikipedia.org/

Sudah 78 Jam Erupsi Merapi Belum Berhenti

Minggu, 07 November 2010

VIVAnews - Letusan Gunung Merapi hingga detik ini masih berlanjut. Setelah mengeluarkan letusan terhebat pada 5 November dini hari, kini gunung teraktif itu tak henti-hentinya memuntahkan awan panas.

Sejak Rabu malam lalu hingga pukul 22.00 WIB Sabtu 6 November 2010, erupsi Merapi terhitung sudah 78 jam tiada henti.

"Aktivitas Merapi masih aktif. Sampai saat ini, masih meletus terus, belum berhenti," kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, pada VIVAnews, Sabtu 6 November 2010 pukul 20.30 WIB

Tremor, guguran lava dan awan panas masih menyembur dari Merapi. Badan Vulkanologi masih menuliskan kata berentetan untuk tiga kondisi ini.

Namun, meski aktivitas Merapi belum reda, tim SAR dan sejumlah relawan tetap melanjutkan proses pencarian korban dan evakuasi. Sayangnya, kondisi cuaca di sekitar lokasi terjadinya bencana kurang bersahabat.

"Di sini masih hujan terus. Tapi, kondisi di lapangan sejauh ini aman terkendali," ujar Surono.

Sampai pukul 21:.0 WIB, Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana melaporkan korban tewas mencapai 145 orang.

"Update data korban sampai saat ini pukul 21.00, tambahan korban meninggal 1 org (diforensik RS sarjito) jd total korban meninggal secara total 145 orang dengan rincian DIY 128 orang (termasuk erupsi tanggal 26 Oktober) dan Jateng 17 orang. (Data RSUD DR SARJITO)," tulis Andi melalui akun Twitter.

Hingga Sabtu malam kolom material vulkanik mencapai kisaran lima kilometer dari puncak. Sedang awan panas meluncur pada jarak sekitar dua kilometer ke semua arah.

"Letusan Merapi saat ini termasuk uninterupted (terus menerus). Fluktuasi letusan tinggi dengan status Awas dengan KRB III 20 kilometer," ujar R Sukhyar, Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM,di kantor BPPTK, Yogyakarta. Area KRB III harus bebas dari penduduk.

Sifat dan letusan Merapi kali ini, menurut R Sukhyar, berbeda dan lebih besar dibanding letusan tahun 1997, 2001 maupun 2006. "Berdasarkan rekaman aktivitas Merapi selama ini, letusan kali ini hampir menyamai letusan tahun 1872," ujar R Sukhyar. (umi)

• VIVAnews

Kronologi Letusan Gunung Merapi October 2010

Selasa, 02 November 2010

KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 26 OKTOBER 2010



Telah terjadi letusan Gunung Merapi pada hari Selasa tanggal 26 Oktober 2010 dengan kronologi sebagai berikut:

1. Pukul 17.02 mulai terjadi awanpanas selama 9 menit

2. Pukul 17.18 terjadi awanpanas selama 4 menit

3. Pukul 17.23 terjadi awanpanas selama 5 menit

4. Pukul 17.30 terjadi awanpanas selama 2 menit

5. Pukul 17.37 terjadi awanpanas selama 2 menit

6. Pukul 17.42 terjadi awanpanas besarb selama 33 menit

7. Pukul 18.00 sampai dengan 18.45 terdengar suara gemuruh dari Pos Pengamatan Merapi di Jrakah dan Selo

8. Pukul 18.10, pukul 18.15, pukul 18.25 terdengan suara dentuman

9. Pukul 18.16 terjadi awanpanas selama 5 menit

10. Pukul 18.21 terjadi awanpanas besar selama 33 menit

11. Dari pos Pengamatan Gunung Merapi Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membubung ke atas setinggi 1,5 km dari puncak Gunung Merapi

12. Pukul 18.54 aktivitas awanpanas mulai mereda

13. Luncuran awanpanas mengarah kesektor Barat-Barat Daya dan sektor Selatan-Tenggara

Catatan : keterangan waktu dalam WIB

Kronologi ini dikutip dari Kronologi Letusan Gunung Merapi Tanggal 26 Oktober 2010 yang dikeluarkan oleh a.n Kepala Badan Geologi, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Gambar rekaman seismik digital G. Merapi 26 Oktober 2010 pukul 09.00 - 21.00 WIB


Gambar rekaman seismik digital G. Merapi 25 - 26 Oktober 2010 pukul 09.00 - 21.00 WIB sebelum terjadi awan panas



KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 30 OKTOBER 2010




- Tanggal 29 Oktober 2010 pukul 19:23, 20:20, 21:40 WIB terjadi awanpanas kecil-sedang arah ke K. Lamat, K. Senowo, K. Krasak.


- Tanggal 30 Oktober 2010 pukul 00:16 WIB terjadi awanpanas besar dengan durasi 7 menit ke arah K. Lamat, K. Senowo, K. Krasak.


- Pukul 00:35 WIB terjadi awanpanas besar dengan durasi 22 menit ke arah K. Gendol, K. Kuning, K. Krasak, K. Boyong.


- Pada pukul 00:50 WIB terjadi ledakan di puncak. Bola api / letusan vertikal mencapai radius 2 km tampak dari Pos Selo, Jrakah, Ngepos, dan Kaliurang. Ketinggian asap mencapai 3,5 km. Getaran letusan dapat dirasakan oleh penduduk yang beradius 12 km (Desa Srumbung/Barat Daya G. Merapi).


- Hujan pasir mencapai radius 10 km (Desa Hargobinangun), sedangkan hujan abu dilaporkan terjadi di Desa Krasak Kabupaten Bantul.


KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 31 OKTOBER 2010


- Terjadi gempa vulkanik 14.28 WIB. Diikuti dengan kejadian awanpanas berdurasi 4 menit.


- Pukul 15:16 WIB kembali terjadi awanpanas letusan durasi 5 menit yang disertai suara dentuman dan gemuruh terdengar dari Babadan dan Selo.. Arah awan panas menuju Kali Gendol (terpantau dari Kaliurang). Getaran terasa di Babadan dan Selo.


- Pada 15.23 WIB terjadi kembali awan panas dengan intensitas sedang berdurasi 3 menit menuju Kali Lamat, Senowo, Krasak, dan Gendol. Luncuran terjauh menuju Kali Gendol.


- Dari Jrakah dilaporkan, awanpanas meluncur ke kali Apu sejauh 1,5 km dan Kali Senowo sejauh 2 km.



KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 1 NOVEMBER 2010


Berikut ini, dipaparkan kronologis Letusan:


- Letusan diawali dengan adanya gempa low frequency pada pukul 09.47 WIB

- Diikuti dengan guguran dari ukuran kecil hingga sedang antara 09.50 WIB

- Guguran besar terjadi 10.00-10.02 WIB Beruntut diikuti awan panas pertama 10.03-10.05 WIB

- Awanpanas kedua menyusul pukul 10.05-10.08 WIB.

- Awanpanas ketiga terjadi pukul 10.20-10.24 WIB

- Awanpanas keempat 10.56-10.59 WIB

- Awanpanas kelima 11.00- 11.02 WIB

- Awanpanas keenam 11.45-11.47 WIB

- Sebagian besar arah awanpanas mengalir ke Kali Gendol dan Kali Woro dengan jarak luncur 4 km (sampai ke Bukit Kendil)

- Asap sulfatara putih dan asap coklat pekat meluncur vertikal ke atas dengan ketinggian 1,5 km

- Arah angin bertiup ke Timur dan Utara.



KRONOLOGI LETUSAN GUNUNG MERAPI TANGGAL 3 NOVEMBER 2010


Telah terjadi erupsi lanjutan G. Merapi pada hari Rabu 3 November 2010 dengan kronologi sebagai berikut:

1. Pukul 11.11-13.19 WIB terjadi awanpanas beruntun dengan durasi maksimum 2 menit. Sementara cuaca dalam keadaan kabut dan hujan, sehingga tidak bias melihat keadaan puncak G. Merapi.

2. Pukul 13.27 WIB dan 13.30 WIB terjadi gempa vulkanik dangkal (VB) sebanyak 2 kali

3. Pukul 14.00-14.03 WIB terjadi guguran besar beruntun sebanyak 4 kali, durasi makimum 1 menit

4. Pukul 14.04 – 14.27 WIB terjadi rentetan awan panas dengan durasi maksimum 5 menit. Diperkirakan jarak luncur awan panas lebih dari 10 km, sehingga diputuskan untuk memperluas daerah aman hingga di luar radius 15 km

5. Pukul 14.44 WIB terjadi awanpanas besar selama 1,5 jam

6. Pukul 16.23 WIB aktivitas mulai reda

7. Pukul 17.30 WIB dilaporkan bahwa awan panas mencapai 9 km di alur K. Gendol.


KEPUTUSAN PERLUASAN DAERAH AMAN MERAPI PER 3 NOVEMBER 2010


Berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 3 Novemeber 2010 dari Pukul 12:00 WIB sampai dengan pukul 18:00 WIB menunjukkan aktivitas G Merapi masih tinggi’ dengan ditunjukan adanya awanpanas beruntun. Maka pada pukul 16:05 WIB diputuskan untuk memperluas daerah aman diluar radius 15 km dari puncak G. Merapi. Status aktivitas Gunung Merapi masih tetap pada tingkat Awas (level 4).

PRESS RELEASES (4 November 2010)


Sehubungan dengan aktivitas erupsi G. Merapi yang terus berlanjut dan meningkat tajam sejak 3 November 2010 pada pukul

11.11 WIB hingga tanggal 4 November 2010 pukul 15.00 WIB. Sifat letusannya eksplosif dan cenderung lebih besar

sehingga daerah ancaman letusan G. Merapi semakin meluas. Untuk mengantisipasi kemungkinan risiko yang lebih besar, perlu

dilakukan perluasan daerah ancaman hingga radius 15 km dari puncak G. Merapi. Adapun daerah yang direkomendasikan untuk

dievakuasi adalah sebagai berikut :


1. Wilayah Kabupaten Sleman:

a. Glagaharjo (semua dusun)

b. Kepuharjo (semua dusun)

c. Umbulharjo (semua dusun)

d. Hargobinangun (Kaliurang Timur, Kaliurang Barat, Boyong, Ngipikasri, Banteng, Sumberan, Sambi)

e. Pakembinangun (Sambi, Padokan, Duwetsari)

f. Purwobinangun (semua dusun)

g. Girikerto (Ngandong, Nganggring, Keloposawit, Kemiri Kebo, Sukorejo, Pancal).

h. Wonokerto (Tunggularum, Gondoarum, Sempu, Balerante)


2. Wilayah Kabupaten Magelang:

a. Kaliurang (semua dusun)

b. Kemiren (semua dusun)

c. Kamongan (semua dusun)

d. Nglumut (semua dusun)

e. Ngablak (semua dusun)

f. Ngargosoka (semua dusun)

g. Srumbung (Ngepos, Cabe Kidul, Cabe Lor)

h. Mranggen (Kalisari, Salamsari, Grogolsari, Mranggensari, Rejosari)

i. Tegalrandu (Pule, Jengkol, Tegalrandu, Losari, Ngelo)

j. Keningar (semua Dusun)

k. Ngargomulyo (semua dusun)

l. Kalibening (semua dusun)

m. Sumber (semua dusun)

n. Krinjing (semua dusun)

o. Mangunsoko (semua dusun)

p. Paten (semua dusun)

q. Sengi (semua dusun)


3. Wilayah Kabupaten Boyolali:

a. Tlogolele (semua dusun)

b. Jrakah (semua dusun)

c. Klakah (semua dusun)


4. Wilayah Kabupaten Klaten:

a. Tegalmulyo (semua dusun)

b. Sidorejo (semua dusun)

c. Balerante (semua dusun)

d. Kendalsari (semua dusun)






sumber : Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK)

Sejarah Gunug Merapi

SEJARAH GEOLOGI
Hasil penelitian stratigrafi menunjukkan sejarah terbentuknya Merapi sangat kompleks. Wirakusumah (1989) membagi Geologi Merapi menjadi 2 kelompok besar yaitu Merapi Muda dan Merapi Tua. Penelitian selanjutnya (Berthomier, 1990; Newhall & Bronto, 1995; Newhall et.al, 2000) menemukan unit-unit stratigrafi di Merapi yang semakin detil. Menurut Berthommier,1990 berdasarkan studi stratigrafi, sejarah Merapi dapat dibagi atas 4 bagian :
PRA MERAPI (+ 400.000 tahun lalu)
Disebut sebagai Gunung Bibi dengan magma andesit-basaltik berumur ± 700.000 tahun terletak di lereng timur Merapi termasuk Kabupaten Boyolali. Batuan gunung Bibi bersifat andesit-basaltik namun tidak mengandung orthopyroxen. Puncak Bibi mempunyai ketinggian sekitar 2050 m di atas
muka laut dengan jarak datar antara puncak Bibi dan puncak Merapi sekarang sekitar 2.5 km. Karena umurnya yang sangat tua Gunung Bibi mengalami alterasi yang kuat sehingga contoh batuan segar sulit ditemukan.

MERAPI TUA (60.000 - 8000 tahun lalu)

Pada masa ini mulai lahir yang dikenal sebagai Gunung Merapi yang merupakan fase awal dari pembentukannya dengan kerucut belum sempurna. Ekstrusi awalnya berupa lava basaltik yang membentuk Gunung Turgo dan Plawangan berumur sekitar 40.000 tahun. Produk aktivitasnya terdiri dari batuan dengan komposisi andesit basaltic dari awanpanas, breksiasi lava dan lahar.

MERAPI PERTENGAHAN (8000 - 2000 tahun lalu)

Terjadi beberapa lelehan lava andesitik yang menyusun bukit Batulawang dan Gajahmungkur, yang saat ini nampak di lereng utara Merapi. Batuannya terdiri dari aliran lava, breksiasi lava dan awan panas. Aktivitas Merapi dicirikan dengan letusan efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan "de¬bris-avalanche" ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal-kuda dengan panjang 7 km, lebar 1-2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Pada periode ini terbentuk Kawah Pasarbubar.

MERAPI BARU (2000 tahun lalu - sekarang)

Dalam kawah Pasarbubar terbentuk kerucut puncak Merapi yang saat ini disebut sebagai Gunung Anyar yang saat ini menjadi pusat aktivitas Merapi. Batuan dasar dari Merapi diperkirakan berumur Merapi Tua. Sedangkan Merapi yang sekarang ini berumur sekitar 2000 tahun. Letusan besar dari Merapi terjadi di masa lalu yang dalam sebaran materialnya telah menutupi Candi Sambisari yang terletak ± 23 km selatan dari Merapi. Studi stratigrafi yang dilakukan oleh Andreastuti (1999) telah menunjukkan bahwa beberapa letusan besar, dengan indek letusan (VEI) sekitar 4, tipe Plinian, telah terjadi di masa lalu. Letusan besar terakhir dengan sebaran yang cukup luas menghasilkan Selokopo tephra yang terjadi sekitar sekitar 500 tahun yang lalu. Erupsi eksplosif yang lebih kecil ter
amati diperkirakan 250 tahun lalu yang menghasilkan Pasarbubar tephra. Skema penampang sejarah geologi Merapi menurut Berthommier, 1990 (gambar bawah).



















Peta menunjukkan sebaran endapan awanpanas Merapi 1911-2006. Hanya wilayah timur lereng yang bebas dari arah aliran awapanas dalam kurun waktu tersebut.

SEJARAH ERUPSI

Tipe erupsi Gunung Merapi dapat dikategorikan sebagai tipe Vulkanian lemah. Tipe lain seperti Plinian (contoh erupsi Vesuvius tahun 79) merupakan tipe vulkanian dengan daya letusan yang sangat kuat. Erupsi Merapi tidak begitu eksplosif namun demikian aliran piroklastik hampir selalu terjadi pada setiap erupsinya. Secara visual aktivitas erupsi Merapi terlihat melalui proses yang panjang sejak dimulai dengan pembentukan kubah lava, guguran lava pijar dan awanpanas (pyroclastic flow).

Merapi termasuk gunungapi yang sering meletus. Sampai Juni 2006, erupsi yang tercatat sudah mencapai 83 kali kejadian. Secara rata-rata selang waktu erupsi Merapi terjadi antara 2 – 5 tahun (periode pendek), sedangkan se
lang waktu periode menengah setiap 5 – 7 tahun. Merapi pernah mengalami masa istirahat terpanjang selama >30 tahun, terutama pada masa awal keberadaannya sebagai gunungapi. Memasuki abad 16 kegiatan Merapi mulai tercatat cukup baik. Pada masa ini terlihat bahwa waktu istirahat terpanjang pernah dicapai selama 71 tahun ketika jeda antara tahun 1587 sampai dengan tahun 1658.























Sejarah letusan gunung Merapi mulai dicatat (tertulis) sejak tahun 1768. Namun demikian sejarah kronologi letusan yang lebih rinci baru ada pada akhir abad 19. Ada kecenderungan bahwa pada abad 20 letusan lebih sering dibanding pada abad 19. Hal ini dapat terjadi karenapencatatan suatu peristiwa pada abad 20 relatif lebih rinci. Pemantauan gunungapi juga baru mulai aktif dilakukan sejak awal abad 20. Selama abad 19 terjadi sekitar 20 letusan, yang berarti interval letusan Merapi secara rata-rata lima tahun sekali. Letusan tahun 1872 yang dianggap sebagai letusan terakhir dan terbesar pada abad 19 dan 20 telah menghasilkan Kawah Mesjidanlama dengan diameter antara 480-600m. Letusan berlangsung selama lima hari dan digolongkan dalam kelas D. Suara letusan terdengar sampai Kerawang, Madura dan Bawean. Awanpanas mengalir melalui hampir semua hulu sungai yang ada di puncak Merapi yaitu Apu, Trising, Senowo, Blongkeng, Batang, Woro, dan Gendol. Awanpanas dan material produk letusan menghancurkan seluruh desa-desa yang berada di atas elevasi 1000m. Pada saat itu bibir kawah yang terjadi mempunyai elevasi 2814m (;bandingkan dengan saat ini puncak Merapi terletak pada elevasi 2968m). Dari peristiwa-peristiwa letusan yang telah lampau, perubahan morfologi di tubuh Gunung dibentuk oleh lidah lava dan letusan yang relatif lebih besar. Gunung Merapi merupakan gunungapi muda. Beberapa tulisan sebelumnya menyebutkan bahwa sebelum ada Merapi, telah lebih dahuiu ada yaitu Gunung Bibi (2025m), lereng timurlaut gunung Merapi. Namun demikian tidak diketahui apakah saat itu aktivitas vulkanik berlangsung di gunung Bibi. Dari pengujian yang dilakukan, G. Bibi mempunyai umur sekitar 400.000 tahun artinya umur Merapi lebih muda dari 400.000 tahun. Setelah terbentuknya gunung Merapi, G. Bibi tertimbun sebagian sehingga saat ini hanya kelihatan sebagian puncaknya. Periode berikutnya yaitu pembentukan bukit Turgo dan Plawangan sebagai awal lahirnya gunung Merapi. Pengujian menunjukkan bahwa kedua bukit tersebut berumur sekitar maksimal 60.000 tahun (Berthomrnier, 1990). Kedua bukit mendominasi morfologi lereng selatan gunung Merapi.

Pada elevasi yang lebih tinggi lagi terdapat satuan-satuan lava yaitu bukit Gajahmungkur, Pusunglondon dan Batulawang yang terdapat di lereng bagian atas dari tubuh Merapi. Susunan bukit-bukit tersebut terbentuk paling lama pada, 6700 tahun yang lalu (Berthommier,1990). Data ini menunjukkan bahwa struktur tubuh gunung Merapi bagian atas baru terbentuk dalam orde ribuan tahun yang lalu. Kawah Pasarbubar adalah kawah aktif yang menjadi pusat aktivitas Merapi sebelum terbentuknya puncak.

Diperkirakan bahwa bagian puncak Merapi yang ada di atas Pasarbubar baru terbentuk mulai sekitar 2000 tahun lalu. Dengan demikian jelas bahwa tubuh gunung Merapi semakin lama semakin tinggi dan proses bertambahnya tinggi dengan cepat nampak baru beberapa ribu tahun lalu. Tubuh puncak gunung Merapi sebagai lokasi kawah aktif saat ini merupakan bagian yang paling muda dari gunung Merapi. Bukaan kawah yang terjadi pernah mengambil arah berbeda-beda dengan arah letusan yang bervariasi. Namun demikian sebagian letusan mengarah ke selatan, barat sampai utara. Pada puncak aktif ini kubah lava terbentuk dan kadangkala terhancurkan oleh letusan. Kawah aktif Merapi berubah-ubah dari waktu ke waktu sesuai dengan letusan yang terjadi. Pertumbuhan kubah lava selalu mengisi zona-zona lemah yang dapat berupa celah antara lava lama dan lava sebelumnya dalam kawah aktif Tumbuhnya kubah ini ciapat diawali dengan letusan ataupun juga sesudah letusan. Bila kasus ini yang terjadi, maka pembongkaran kubah lava lama dapat terjadi dengan membentuk kawah baru dan kubah lava baru tumbuh dalam kawah hasil letusan. Selain itu pengisian atau tumbuhnya kubah dapat terjadi pada tubuh kubah lava sebelumnya atau pada perbatasan antara dinding kawah lama dengan lava sebelumnya. Sehingga tidak mengherankan kawahkawah letusan di puncak Merapi bervariasi ukuran maupun lokasinya. Sebaran hasil letusan juga berpengaruh pada perubahan bentuk morfologi, terutama pada bibir kawah dan lereng bagian atas. Pusat longsoran yang terjadi di puncak Merapi, pada tubuh kubah lava biasanya pada bagian bawah yang merupakan akibat dari terdistribusikannya tekanan di bagian bawah karena bagian atas masih cukup kuat karena beban material.

Lain halnya dengan bagian bawah yang akibat dari desakan menimbulkan zona-zona lemah yang kemudian merupakan pusat-pusat guguran. Apabila pengisian celah baik oleh tumbuhnya kubah masih terbatas jumlahnya, maka arah guguran lava masih dapat terkendali dalam celah yang ada di sekitarnya. Namun apabila celah-celah sudah mulai penuh maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan tumbuhnya kubah. Sehingga pertumbuhan kubah lava yang sifat menyamping (misal, periode 1994 - 1998) akan mengakibatkan perubahan arah letusan. Perubahan ini juga dapat terjadi pada jangka waktu relatif pendek dan dari kubah lava yang sama. Pertumbuhan kubah lava ini berkembang dari simetris menjadi asimetris yang berbentuk lidah lava. Apabila pertumbuhan menerus dan kecepatannya tidak sama, maka lidah lava tersebut akan mulai membentuk morfologi bergelombang yang akhirnya menjadi sejajar satu sama lain namun masih dalam satu tubuh. Alur pertumbuhannya pada suatu saat akan mencapai titik kritis dan menyimpang menimbulkan guguran atau longsoran kubah. Kronologi semacam ini teramati pada th 1943 (April sampai Mei 1943).

Penumpukan material baru di daerah puncak akibat dari pertumbuhan kubah terutama terlihat dari perubahan ketinggian maksimum dari puncak Merapi. Beberapa letusan yang dalam sejarah telah mengubah morfologi puncak antara lain letusan periode 18221823 yang menghasilkan kawah berdiameter 600m, periode 1846 - 1848 (200m), periode 1849 (250 - 400m), periode 1865 - 1871 (250m), 1872 - 1873 (480 - 600 m), 1930, 1961.

sumber: Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK)



Belum Ada Tanda Merapi Akan Mereda

Saat ini ada 19 gunung yang berstatus Waspada, termasuk Anak Krakatau.

Letusan Gunung Merapi tahun 2010

VIVAnews - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, hari ini menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dia melaporkan perkembangan dan aktivitas sejumlah gunung berapi di wilayah Indonesia, termasuk Gunung Merapi.

Surono mengatakan gunung yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah itu belum memberikan tanda-tanda akan diam. "Belumlah. Tadi juga meletus," kata dia kepada wartawan di kantor Presiden, Senin 1 November 2010. "Saya mesti siap-siap nih. Masih awas."

Laporan yang dia sampaikan ke Presiden termasuk persiapan-persiapan yang dilakukan petugas. Sejak 2007, kata dia, Vulkanologi dan Mitigasi sudah bekerja sama dengan pemerintah daerah bagaimana mengantisipasi Merapi. "Sampai keadaaan terkini."

Hari ini, kata dia, penjaga pos pemantau Merapi sudah disuruh turun menyusul letusan yang terjadi tadi pagi. Surono tidak mau mengambil resiko karena kondisi awan panas sudah membahayakan. "Masak kita harus mati," kata dia.

Surono juga menjelaskan bahwa aktivitas gunung berapi tidak saling mempengaruhi satu sama lain. Hal ini sekaligus menjawab perdebatan di masyarakat yang menyebutkan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau akibat Merapi. "Status Anak Kratakau itu sudah lama Waspada. Dia kan engga naik-naik kelas sebelum Merapi berstatus Waspada," kata dia.

Saat ini, sambungnya, ada 19 gunung berapi yang berstatus Waspada dan dua Siaga. Dua gunung yang siaga adalah Gunung Ibu di Halmahera dan Karangetang di Maluku Utara. "Wajarlah, orang Indonesia punya gunung berapi terbanyak di dunia."


sumber : ViVaNews.com

Candi Prambanan dan Ratu Boko Terhindar dari Abu Merapi

Metrotvnews.com, Jakarta: Candi Prambanan dan Ratu Boko di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. terhindar dari hujan abu vulkanik Merapi. "Hasil pemantauan di lapangan tadi pagi, abu vulkanik Merapi tidak mengenai Candi Prambanan dan Ratu Boko. Sedangkan candi yang lainnya, seperti Kalasan, Suko, Risan, Plembutan, Miri, Gebang, serta Sambisari tertutup abu cukup tebal mengingat arah angin mengarah ke kota Yogyakarta," kata Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, Herni Primastuti, dalam laporannya kepada Crisis Center Budpar di Jakarta, Sabtu (30/10).

Herni mengatakan, saat ini BP3 Yogyakarta telah menurunkan enam petugas ke lapangan untuk melakukan pembersihan serta penelitian, termasuk pengambilan sampel abu vulkanik untuk diteliti di laboratorium BP3 sehingga pada Senin (1/11) seluruh laporan akan dikirim ke pusat.

Terhindarnya Prambanan dari abu vulkanik Merapi, menurut Herni, tidak mengganggu aktivitas maupun acara, termasuk program pertunjukan Sendra Tari Ramayana di pelataran panggung Candi Prambanan. "Acara-acara yang direncanakan sebelumnya tetap berjalan sesuai rencana dan sama sekali tidak terganggu," katanya.

Merapi mengeluarkan erupsi pertama kali pada 26 Oktober 2010. Merapi mengeluarkan awan panas disertai material berupa pasir dan debu vulkanik, yang terbang tertiup angin hingga sampai Kecamatan Muntilan dan Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Abu vulkanik Merapi yang sifatnya korosif tersebut menutupi bagian Candi Borobudur, seperti bagian lantai seluruh lorong, permukaan stupa, dan bagian atas dinding-dinding langkan, sedangkan bagian dinding vertikal (tempat relief dipahatkan) tidak terkena hujan debu. Sebanyak 50 petugas dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dan Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah dikerahkan untuk membersihkan Candi .

Sehubungan dengan hal itu, ,pengelola Taman Wisata Candi Borobudur mengeluarkan pembatasan kunjungan wisata hanya sampai halaman candi hingga lorong pertama candi. Pembatasan kunjungan dilakukan karena proses pembersihan itu berlangsung dari 28 Oktober hingga 30 Oktober 2010.

sumber : http://www.metrotvnews.com

 
FaceBlog © Copyright 2009 Asal Kita Tahu Bukan Sekedar Tahu | Blogger XML Coded And Designed by Edo Pranata